Sabtu, 05 Juni 2021

Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan

Paper Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan                                         Medan,       Juni 2021

VALUASI NILAI EKONOMI KARBON MANGROVE DI KAWASAN MANDEH KECAMATAN KOTO XII TARUSAN KABUPATEN PESISIR SELATAN 

 

Dosen Penanggung Jawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Disusun Oleh :

Wahyu Danesya
191201119
 HUT 4C

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudulValuasi Nilai Ekonomi Karbon Mangrove Di Kawasan Mandeh Kecamatan Koto XII Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan ” ini dengan baik dan tepat waktu. Adapun paper ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam menulis Paper ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. sebagai dosen penanggungjawab yang telah membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan Paper ini.

Penulis sadar bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik maupun  materi. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membantu penulis demi peyempurnaan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan ini dan semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua. 

Medan,    Juni  2021

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Hutan mangrove adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan berbagai masyarakat pesisir tropis didominasi oleh beberapa spesies pohon khas atau semak yang memiliki kemampuan untuk tumbuh di perairan asin. Hutan mangrove adalah jenis hutan yang khas yang ditemukan di sepanjang pantai atau sungai yang terkena air pasang. Mangrove tumbuh di pantai atau pantai yang terlindung, biasanya di sepanjang sisi pulau dilindungi dari angin atau di belakang terumbu karang di lepas pantai. hutan mangrove merupakan ekosistem kompleks yang terdiri dari flora dan fauna daerah pesisir, tanah tinggal dan habitat dan laut, antara batas pasang surut. Mangrove merupakan tumbuhan pantai yang khas di sepanjang pantai tropis dan sub-tropis yang terlindung, dipengaruhi pasang surut air laut, dan mampu beradaptasi di perairan payau. Hutan mangrove adalah jenis ekosistem hutan yang tumbuh di batas air pasang surut, tepatnya daerah pesisir dan sekitar muara sungai, sehingga lantai hutan selalu tergenang dan selalu tertutup endapan (Harahap, 2011).

    Hutan mangrove telah lama dikenal karena berbagai keanekaragaman hayati karena menggunakan pakan, pemuliaan, dan tempat pembibitan untuk banyak spesies ekologis dan komersial penting, termasuk kepiting, ikan, moluska, tiram, dan udang, dan menyediakan habitat bagi banyak spesies amfibi, burung, krustasea, dan mamalia [FAO, 2007]. UNEP [2014] menyatakan bahwa hutan bakau menyediakan berbagai macam barang dan jasa ekosistem, termasuk penyediaan (misalnya, keanekaragaman hayati, serat, Perikanan, pakan ternak, makanan, bahan bakar, obat-obatan, tannin, dan kayu), mengatur dan mendukung (misalnya, peraturan iklim, perlindungan pesisir, pengendalian erosi, menjaga kualitas air, Bersepeda gizi, stabilisasi tanah, dan mendukung terumbu karang dan lamun), dan layanan budaya (pendidikan, warisan, rekreasi, penelitian, dan pariwisata). Sebagai salah satu kumpulan vegetasi yang memiliki fungsi ekologis yang tinggi, mangrove memiliki nilai ekonomi dari keberadaannya di alam atau Existing Value dari keberadaan tersebut kita dapat mengambil manfaat ekonomi dari hutan mangrove salah satunya adalah nilai karbon (Lugina., et al, 2011).

1.2  Tujuan

1.    Untuk mengidentifikasi Manfaat dan Fungsi yang  terkait dengan Hutan Mangrove

2.    Untuk Mengetahui Nilai apa saja yang dikuantifikasi Manfaat ke dalam Nilai 
Uang

3.  Untuk Mengetahui dikuantifikasi Manfaat Hutan Mangrove   di Kawasan Mandeh


 

BAB II

ISI

Mangrove merupakan sumber daya alam yang memiliki banyak fungsi sebagai habitat bagi perkembangbiakan tanah dan tempat berlindung bagi sumber daya hayati laut dan harus dijaga kontinuitas (KEPMEN 2004). Hutan mangrove merupakan salah satu bentuk potensi sumber daya alam. Hutan mangrove memiliki nilai ekonomis dan ekologi yang tinggi, tetapi sangat rentan terhadap kerusakan ketika kurang bijaksana dalam menjaga, melestarikan, pengelolaan dan pemanfaatan. Ekosistem mangrove yang sangat produktif, berbagai produk dari mangrove dapat diproduksi baik secara langsung maupun tidak langsung, termasuk: kayu bakar, bahan bangunan, rumah tangga, kertas, kulit, farmasi dan Perikanan seperti ikan, udang, kepiting, dan hewan jenis lainnya (Syafruddin 2014).

Mangrove menyimpan lebih banyak karbon daripada hampir semua hutan lain di bumi, sebuah penelitian yang dilakukan tim peneliti dari US Forest Service Pasifik Southwest dan Stasiun penelitian Utara, Universitas Helsinki dan pusat penelitian Kehutanan internasional meneliti kandungan karbon dari 25 hutan bakau di wilayah Indo-Pasifik dan menemukan bahwa hutan mangrove per hektar menyimpan hingga empat kali lebih banyak karbon dari kebanyakan hutan tropis lainnya di seluruh dunia. Keberadaan mangrove sangat penting karena memiliki fungsi tinggi ekologis dan ekonomis sehingga keberadaan hutan bakau harus dipertahankan karena hilangnya hutan bakau akan memberikan kerugian terhadap lingkungan yang kehilangan potensi karbon dan kemampuan mangrove untuk menyerap emisi CO2 juga akan hilang di samping banyak fungsi mangrove lainlain (Paradiska , 2014).

 Sumber daya alam yang belum terganggu oleh kekuatan manusia, sumber daya alam itu memang memiliki nilai. Menurut ekonom klasik segala sesuatu yang dapat dibeli dan dijual harus memiliki nilai. Dalam hal ini "nilai" dibedakan dengan "harga", "harga" selalu dikaitkan dengan jumlah uang yang harus dibayar untuk barang, sedangkan nilai barang tidak selalu dikaitkan dengan jumlah Rupiah, tetapi mencakup manfaat barang bagi masyarakat secara keseluruhan (MA, 2005).

Metode berdasarkan nilai penilaian atau penentuan nilai yang besar untuk dilakukan, yaitu: (a) nilai pasar, nilai ditentukan melalui transaksi pasar, (b) nilai kegunaan, nilai Diperoleh dari penggunaan sumber daya ini oleh individu tertentu dan (c) nilai sosial, nilai yang ditetapkan oleh peraturan, hukum, atau perwakilan masyarakat. Pearce (1992 di Munasinghe, 1993) membuat nilai klasifikasi yang menjelaskan manfaat metode berbasis nilai ekonomi Total (nilai ekonomi Total) atau proses manfaat yang diperoleh (Davis dan Johnson, 1987).

Tabel 1. Jenis dan Dominasi Vegetasi Mangrove

 No

Jenis

Persentase

1

A. Floridum (AF)

23.73%

2

S. Taccada (ST)

10.12%

3

T. Populnea (TP)

14.59%

4

C. Inerme (CI)

7.88%

5

S. Ovata (SO)

6.24%

6

R. Apiculata (RA)

30.32%

7

A. Corniculatum (AC)

4.07%

8

A. Annulata (AA)

3.05%

Total

100.00%

Hasil dominasi vegetasi mangrove adalah 30% dominasi R. apiculata (Ra), 24% dominasi A. floridum (AF), 15% dominasi T. populnea (TP). Analisis spesies dominan vegetasi mangrove digunakan untuk menentukan nilai penyerapan karbon di kawasan mangrove Mandeh:

Tabel 2. Biomassa dan Stok Karbon Mangrove

Vegetation

Biomassa

Carbon Stock

Ton

Ton C

Ton CO2e

AF

1023.99

481.27

962.55

ST

264.46

124.29

248.59

TP

1292.97

607.70

1215.40

CI

323.14

151.88

303.75

SO

344.27

161.81

323.62

RA

523.21

245.91

491.81

AC

25.61

12.04

24.07

AA

96.57

45.39

90.78

Total

3894.22

1830.28

3660.56

Pengukuran dominasi mangrove vegetasi dihitung berdasarkan persamaan dominasi mutlak dan dominasi relatif dan untuk perhitungan stok karbon dengan mengukur diameter batang pohon dan pohon bakau tinggi kemudian dihitung dengan persamaan biomassa sehingga untuk mendapatkan nilai biomassa pohon bakau. maka untuk potensi karbon dan nilai yang diukur dengan persamaan karbon setara karbon kemudian mengubah stok karbon menjadi CO2 setara dapat menggunakan rasio massa atom relatif dengan Massa molekul relatif (Manuri, 2011).

Untuk mengukur nilai valuasi ekonomi mangrove dapat dicapai dengan harga pasar dengan melihat jumlah karbon yang harga pasar dunia. New Zealand Emissions Trading System (NZ ETS) dibentuk berdasarkan Undang-Undang Tanggap Perubahan Iklim yang diterbitkan Pemerintah Selandia Baru pada tahun 2002. NZ ETS mulai beroperasi pada tahun 2008 dengan cakupan sektoral yang ditingkatkan secara bertahap. NZ ETS adalah satu-satunya perdagangan emisi di dunia yang memasukkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Hal ini sesuai dengan profil emisi Selandia Baru dimana sumber emisi utamanya adalah dari sektor agrikultur dimana peternakan dan pertanian menjadi salah satu sumber emisi utama dan terbesar. Saat ini harga karbon NZU mencapai NZ$19 per ton karbon. Penilaian ekonomi Total karbon mangrove di wilayah Mandeh setelah analisis dengan metode harga pasar pada semua jenis mangrove, harga mangrove Carbon yang diperoleh Total adalah $69,550.83 dan konversi Rupiah (15.000) adalah Rp 981,270,859.69

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

1.   Ekonomi Sumber Daya Hutan adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi terhadap persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan harga termasuk dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat (kesempatan kerja, pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi makro.

2. Sumberdaya hutan menghasilkan manfaat yang menyeluruh baik manfaat tangible maupun manfaat intangible. Tangible adalah Keuntungan atau dampak yang terjadi yang dapat diukur secara ekonomis (uang).Intangible adalah Keuntungan atau dampak yang tidak dapat diukur secara ekonomis (uang).

3.Mangrove merupakan sumber daya alam yang memiliki  fungsi sebagai habitat bagi perkembangbiakan tanah dan tempat berlindung bagi sumber daya hayati laut dan harus dijaga kontinuitas.

4. Mangrove menyimpan lebih banyak karbon daripada hampir semua hutan lain di bumi

5.Penilaian ekonomi Total karbon mangrove di wilayah Mandeh setelah analisis dengan metode harga pasar pada semua jenis mangrove, harga mangrove Carbon yang diperoleh Total adalah $69,550.83 dan konversi Rupiah (15.000) adalah Rp 981,270,859.69.

Saran

kita harus tetap menyimpan dan melindungi mangrove kita untuk masa depan dan jika kita kehilangan hutan mangrove kita maka harganya adalah orang yang akan menghilang dari hutan kita dan itu adalah kerugian besar bagi kita.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bann, C., 1997. Economy and Environment Program for Southeast Asia the Economic Valuation of Tropical Forest Land Use Options: A Manual for Researchers August 1997. Foreign Affairs

De Groot, R.S., Wilson, M.A., Boumans, R.M.J., 2002. A typology for the classification, description and valuation of ecosystem functions, goods and services. Journal of Ecological Economics 41

Harahap, Rosmawati. 2011. Keanekaragaman Vegetasi dan Perhitungan Karbon Tersimpan Pada Vegetasi Mangrove di Hutan Mangrove Kuala Indah Kabupaten Batubara. Medan: Tesis Sekolah Pasca Sarjana USU.

Kementerian Kehutanan. 2012. Pedoman Penggunaan Model Alometrik Untuk Pendugaan Biomassa dan Stok Karbon Hutan di Indonesia. Kementerian Kehutanan RI.

Lugina, Mega, Kirsfianti LG, Ari Wibowo, Afiefah Bainnaura, Tian Partiani. 2011. Prosedur Operasi Standar (SOP) Untuk Pengukuran dan Perhitungan Stok Karbon di Kawasan Konservasi. Kementerian Kehutanan RI.

MA, 2005. Ecosystems and Human Well-Being, Millennium Ecosystem Assessment. Island Press.

Manuri, Solichin. Candra ASP. Agus DS. 2011. Teknik Pendugaan Cadangan Karbon Hutan. Palembang: MRPP-GIZ.2011.

Paradiska, Rian, Andi Z, Nancy W. 2014. Nilai Kandungan Karbon dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Mangrove di Desa Tembeling Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau. Kepulauan Riau: Jurnal Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan FIKP UMRAH.

Primanika, Aries, Erna J, Farida. 2014. Pendugaan Cadangan Karbon Pada Lahan Alang-alang dan Semak Belukar di Nagari Paninggahan Kecamatan Junjung Sirih Kabupaten Solok. Padang: E-Jurnal Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

Syafruddin, YS, Dasrizal, Farida. 2014. Pemetaan Kerusakan Hutan Mangrove di Kecamatan Mandah Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau. Padang: E-Jurnal Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat. 

Rabu, 24 Maret 2021

Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan - Fakultas Kehutanan USU

 

Makalah PraktikumEkonomi Sumber Daya Hutan                       Medan,   Maret 2021

MENANAM POHON BERNILAI EKONOMI TINGGI

Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si.

Disusun Oleh :

Winda

191201045

Putri Fadhira Muliani

191201046

Ika Darwati Nainggolan

191201116

Wahyu Danesya

191201119

Juliana

191201123

Fauzan Enda Mora Dalimuthe

191201199

 

Kelompok 6

HUT 4C

 

 

 

 



 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN 

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 

MEDAN

2021


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Ekonomi Sumber Daya Hasil Hutanyang berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi” ini dengan semaksimal mungkin  dan dalam waktu yang telah ditentukan. Adapun makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hasil Hutandi Program Studi  Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan makalah ini penulis menerima banyak bantuan dari  berbagai pihak, penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen penanggungjawab yaitu bapakDr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si.yang telah memberikan pelajaran dan  bimbingannya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalahini. Begitu juga  kepada teman dan sumber-sumber yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam penyelesaian makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna maka  dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi  kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat menjadi sumber informasi  kepada setiap pembaca. 

                                                                                     

 

                                                                          Medan,Maret 2021

 

                                                                                                Penulis

Penulis

DAFTAR  ISI

                                                                                                                     Halaman

KATA PENGANTAR.................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

          1.1Latar Belakang................................................................................... 1

          1.2Rumusan Masalah............................................................................... 2

          1.3Tujuan................................................................................................. 2

BAB II ISI

          2.1 Apa Pengertian dari Pohon................................................................ 3

          2.2 Apa Pengertian dari Menanam.......................................................... 3

          2.3 Mendeskripsikan Apa Saja Teknik dalam Penanaman Pohon........... 3

          2.4 Mendeskripsikan Jenis Pohon yang Bernilai Ekonomis Tinggi......... 6

BAB III PENUTUP

          3.1 Kesimpulan........................................................................................ 11

3.2 Kesimpulan....................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 


PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Pohon adalah tumbuhan yang batangnya berkayu dan dapat mencapai ukuran diameter 10 cm atau lebih yang diukur pada ketinggian 1,50 meter diatas permukaan tanah yang mana pohon bisa hidup ratusan tahun dan terdiri dari beberapa bagian utama yaitu akar, batang, cabang dan daun. Pohon adalah tumbuhan menahun dengan batang yang tumbuh memanjang, mendukung cabang dan daun pada sebagian besar spesies. Pohon merupakan suatu tatanan lingkungan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Pohon dapat menghasilkan oksigen yang mana oksigen tersebut sangat dibutuhkan oleh  manusia, pohon sebagai penyerap air hujan (Dwi et al., 2012).

            Penanaman pohon merupakan kegiatan yang penting dalam budidaya hutan. Pada hutan yang mencakup areal yang luas, akan dibutuhkan pengeluaran dan persiapan yang cukup. Nilai ekonomi dari suatu tanaman dapat ditentukan dari tingkat keunikan serta besarnya manfaat yang didapat dari tanaman tersebut. Mayoritas hutan rakyat dikelola dengan system monokoltur atau campuran walaupun terdapat beberapa hutan rakyat yang penggunaanya menggunakan tumpang sari. Kurangnya pemahaman petani hutan terhadap kemampuan mengolah lahan sehingga pengelolaan yang dioptimalkan menjadikan kesejahteraan untuk hidup para petani (Sadono, 2018).

            Kegiatan penanaman pohon merupakan salah satu upaya untuk mengajak masyarakat berperan aktif pada konservasi alam sekaligus pengembangan potensi ekonomi local tanpa menggangu fungsi utama dari suatu ekosistem. Banyaknya pilihan tanaman yang dapat dibudidayakan tentunya menjadi keuntungan tersendiri. Namun dibutuhkan kejelian untuk memilih tanaman yang ingin ditanam. Kegiatan penanaman merupakan kegiatan inti dari budidaya hutan. Hutan yang mencakup areal luas, memerlukan biaya besar sehingga diperlukan cukup. Kegiatan penanaman meliputi pemilihan jenis, persiapan lapangan, pemasangan anjir, pembuatan lubang tanam, pengangkutan bibit, penanama, serta pemeriksaan pekerjaan dan evaluasi (Wahyudi dan Anwar, 2013).

Penanaman pohon adalah proses penanaman bibit pohon, umumnya untuk kehutanan, reklamasi lahan atau tujuan lanskap. Berbeda dari transplantasi pohon yang lebih besar dalam budidaya, dan dari biaya yang lebih rendah tetapi distribusi benih pohon lebih lambat dan kurang dapat diandalkan. Penanaman pohon memiliki manfaat bagi kelangsungan hidup berbagai makhluk hidup yang ada. Kesadaran masyarakat menanam berbagai jenis tanaman konservasi bernilai ekonomi yang tinggi terus meningkat. Yang kerap dicari merupakan jenis multi purpose tree species (MPTS). Tanaman berfungsi sebagai penahan erosi untuk rehabilitasi tanah sekaligus memiliki nilai ekonomis. Bibit MPTS dimanfaatkan sebagai tanaman konservasi trend penanaman pohon untuk investasi. Sebelumnya yang dipilih masyarakat merupakan tanaman kayu bahan bangunan. Kini Sebagian mulai beralih menanam hail hutan bukan kayu (Hardiatmi, 2011).

            Kegiatan penanaman memiliki beberapa tujuan  seperti penanaman rutin, penanaman pengayaan, reboisasi atau penghijauan dan tujuan untuk konservasi selain itu, penanaman pohon juga memiliki tujuan untuk mendapatkan tegakan yang sehat dan memiliki persediaan tanaman yang cukup dimasa yang akan dating dan menghasilkan bibit unggul untuk pananaman selanjutnya. Penanaman bibit perlu diperhatikan agar tidak berpengaruh buruk saat ditanam (Wahyudi, 2013).

1.2 Rumusan Masalah

            Adapun rumusan masalah makalah yang berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi” adalah sebagai berikut:

1.   Apa pengertian dari pohon ?

2.   Apa pengertian dari menanam?

3.   Apa saja teknik yang dilakukan saat menanam pohon?

4.   Apa saja jenis pohon yang bernilai ekonomis tinggi?

1.3 Tujuan

            Adapun tujuan makalah yang berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi” adalah sebagai berikut:

1.   Mendeskripsikan pengertian dari pohon.

2.   Mendeskripsikan pengertian dari menanam.

3.   Mendeskripsikan apa saja teknik dalam penanaman pohon.

4.   Mensedripsikan apa saja jenis pohon yang bernilai ekonomis tinggi

PEMBAHASAN

 

 

2.1  Pengertian Pohon

Menurut Undang-undang nomor 18 tahun 2013 Pohon adalah tumbuhan yang batangnya berkayu dan dapat mencapai ukuran diameter 10 (sepuluh) sentimeter atau lebih yang diukur pada ketinggian 1,50 (satu koma lima puluh) meter di atas permukaan tanah. Pohon adalah salah satu habitus atau perawakan tumbuhan dengan kemampuan berfotosintesis sehingga dapat menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen.

Pengertian pohon menurut Badan Standar Indonesia adalah tumbuhan berkayu yang pada puncak pertumbuhan batang utamanya memiliki diameter lebih dari 20 cm. Oleh karena dari itu tumbuhan dapat dikatakan sebagai pohon apabila memiliki syarat berupa batangnya berkayu dengan diameter lebih dari 20 cm saat sudah dewasa.

2.2  Pengertian Menanam

Kegiatan penanaman merupakan kegiatan inti dari budidaya hutan. Hutan yang mencakup areal yang luas, memerlukan biaya yang besar sehingga diperlukan ketrampilan yang cukup. Kegiatan penanaman meliputi Pemilihan Jenis, persiapan lapangan, pemasangan ajir, pembuatan lubang tanam, pengangkutan bibit, penanaman, penyulaman serta pemeriksaan pekerjaan dan evaluasi penanaman. Kegiatan penanaman mempunyai beberapa macam tujuan diantaranya untuk tujuan penanaman rutin, penanaman pengayaan, reboisasi atau penghijauan serta untuk tujuan konservasi. Selain itu, penanaman juga mempunyai tujuan untuk mendapatkan tegakan yang sehat serta memiliki persediaan tanaman yang cukup di masa yang akan datang. Tanaman yang sehat dapat dihasilkan dari bibit yang sehat pula. Maka setiap unit penanaman dianjurkan untuk memilih bibit yang siap ditanam di lapangan. Selain itu, cara penanaman bibit yang benar perlu diperhatikan karena cara penanaman sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit di lapangan.

2.3  Teknik Dalam Penanaman Pohon

  Ø   Perencanaan

lapangan Perencanaan lapangan bertujuan untuk menentukan areal yang akan ditanami. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan pembuatan batas-batas areal tanaman termasuk batasbatas areal yang tidak boleh dibuka karena mengandung unsur perlindungan seperti jurang, lereng terjal, tepi sungai, mata air dan monumen. Di samping itu juga perlu ditandai areal-areal yang memerlukan anggelan, trucuk dan selokan. Jenis Patok yang dapat digunakan.

  Ø   Pembersihan lahan

Kegiatan pembersihan lapangan mutlak diperlukan dalam persiapan pembuatan tanaman hutan. Kegiatan pembersihan lapangan meliputi pembersihan semak, perdu dan pohon-pohon sisa. Pada saat kegiatan pembersihan lahan dilakukan, bahanbahan yang dapat digunakan untuk membuat anggelan maupun ajir dapat dikumpulkan. Pada daerah yang miring sisa-sisa tonggak dibiarkan untuk menguatkan struktur tanah dan untuk mengendalikan erosi.

  Ø   Pengolahan tanah

Pengolahan tanah dilakukan dengan tujuan agar bibit yang ditanam memperoleh media tumbuh yang baik, sehingga tumbuhnya menjadi optimal. Ada beberapa Metode pengolahan tanah, yaitu; pengolahan tanah secara mekanis dengan menggunakan mesin-mesin traktor, dan pengolahan tanah secara manual, dengan menggunakan tenaga manusia dan peralatan yang sederhana. Pengolahan tanah dilakukan dua kali yaitu Gebrus I untuk membalikkan tanah dan Gebrus II untuk menghaluskan tanah hingga siap untuk ditanami. Pada pengolahan tanah Gebrus I, tanah dicangkul atau diganco sedalam 20 – 25 cm supaya memudahkan pertukaran udara dan peresapan air. Tanah yang beralangalang dicangkul/diganco sedalam 30-35 cm supaya akarnya terangkat dan dibuang, selanjutnya dapat dibakar secara terkendali. Tonggak-tonggak dipotong-potong kemudian dibakar secara terkendali. Pada pengolahan tanah Gebrus II, tanah yang masih bergumpal-gumpal digemburkan kembali sehingga tekstur tanahnya menjadi lebih halus.

  Ø   Pengangkutan bibit

Pengukuran bibit dilakukan secara hati-hati agar tidak mengalami kerusakan selama dalam perjalanan. Bibit yang telah diseleksi dimasukkan ke dalam peti atau keranjang dengan cara disusun rapat sehingga tidak bergerak jika dibawa atau ditumpuk. Bibit yang dibawa ke lapangan adalah bibit yang sehat dan segar, dan terhindar dari panas matahari serta disimpan di tempat teduh dan terlindung.

  Ø   Penanaman Tahapan

pelaksanaan kegiatan penanaman meliputi:

a. Pengaturan arah larikan

·      Penentuan arah larikan pada penyiapan lahan dilakukan secara manual dan kimiawi (herbisida) dan dilakukan sebelum kegiatan pembersihan lapangan, karena arah larikan tanaman membantu arah jalur tanaman pada saat akan dibersihkan.

·      Arah larikan tanaman pada daerah landai dibuat Utara – Selatan atau Timur – Barat, sedangkan pada areal bertopografi curam arah larikan sejajar dengan kontur.

·      Untuk memudahkan pekerjaan, penentuan arah larikan dimulai dari batas kawasan areal tanaman, jalan hutan atau batas blok / petak.

b. Pemasangan ajir

Pemasangan ajir dilakukan setelah pembersihan lahan; dengan cara menarik tali dari arah larikan pertama dengan arah sejajar, mengikuti jarak tanam yang telah ditetapkan pada rancangan tanaman.

c. Distribusi bibit

Distribusi bibit adalah pekerjaan pemindahan bibit dari persemaian ke areal tanam. Pendistribusian ke lokasi penanaman dilakukan setelah kegiatan pembuatan lubang tanam. Dalam distribusi bibit terdapat hal–hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

1)      Bibit yang diangkut dengan dipikul, memiliki jangkauan maksimal 2 Km dari tempat pengumpulan bibit di lapangan.

2)      Jumlah bibit yang diangkut sesuai dengan jadwal penanaman serta kemampuan regu tanam.

d. Pembuatan lubang tanam dan penanaman

·      Pembuatan lubang tanam dilakukan dekat ajir, dengan ukuran lubang 30 x 30 x 30 Cm.

·      Karena bibit mengunakan polybag, maka sebelum bibit ditanam kantong plastik dilepas dengan cara disobek. Sebelumnya media dipadatkan terlebih dahulu dengan cara memeras atau menekan polybag tersebut.

·      Bibit diletakan di tengah lubang secara vertikal, terus ditimbun hati-hati dengan tanah sekitar sampai batas leher. Dalam menimbun upayakan topsoil dimasukkan ke lubang terlebih dahulu. Kemudian tanah sekitar bibit dipadatkan dengan jalan ditekan secara hati-hati sampai terjadi kontak antara perakaran dengan tanah.

e. Waktu penanaman

Penanaman di lapangan dilakukan pada saat musim hujan, terutama saat hujan telah merata dan tanah sudah cukup lembab. Waktu pelaksanaan dilakukan pada pagi hari terutama pada saat cuaca agak mendung / berawan.

2.4  Jenis Pohon Bernilai Ekonomis Tinggi

a.    Pohon Gaharu

Aquilaria spp. merupakan salah satu kelompok tumbuhan penghasil aromatik bernilai komersil tinggi dalam bentuk gubal gaharu dan kamedangan. Tingginya permintaan pasar serta tingginya harga jual menjadikan kelompok tumbuhan ini dikhawatirkan pemanfaatannya akan melebihi daya dukungnya di alam. Hal ini dikarenakan pola panenan alam yang terjadi adalah dengan cara menebang keseluruhan tegakan hanya untuk mengambil gubal gaharunya, sedangkan laju pertumbuhan untuk setiap jenis gaharu belum banyak diketahui. Persebaran pohon Aquilaria spp. sebagai penghasil gaharu di Sumatera setidaknya memiliki 30 titik cluster dan di Kalimantan 98 titik. Bagaimana penyebaran alami pohon penghasil gaharu masih belum dapat dijelaskan dengan baik.

Gaharu yang mempunyai nama perda- gangan agarwood, eaglewood atau aloe- wood adalah salah satu jenis hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomi tinggi karena adanya bau wangi resin akibat dari pendamaran pada bagian tertentu dari kayu pohon penghasil gaharu akibat infeksi oleh jamur. Gaharu banyak digu- nakan untuk berbagai keperluan seperti parfum, hio, minyak wangi, dan sebagai obat tradisional. Bentuk perdagangan gaharu beragam mulai dari kayu bongkahan, chip, serbuk, dan minyak gaharu. Gaharu banyak diekspor ke negara-negara Arab, Singapura, dan China. Salah satu pohon penghasil gaharu yang selama ini banyak dieksploitasi di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah jenis Gyrinops versteegii (Gilg.) Domke. Dewasa ini jumlah populasi dan mutu produksi gaharu sudah sangat menurun akibat eksploitasi yang dilakukan secara terus menerus dan berlebihan tanpa per- hitungan, teknik pemanenan yang tidak te- pat, proses penularan masih secara alami, dan belum banyak dilakukan penanaman. Oleh karena itu dewasa ini pohon gaharu semakin langka dan lokasi pengambilan gaharu semakin jauh ke dalam hutan serta waktu yang dibutuhkan untuk pengambilan gaharu semakin lama. Bahkan untuk men- cari bibit gaharu dalam jumlah yang terbatas untuk kegiatan penanaman sudah sema- kin sulit dan jauh masuk ke dalam hutan.

Untuk menanggulangi permasalahan penurunan populasi pohon gaharu maka perlu secepatnya dilakukan pelestarian baik in situ maupun ex situ. Salah satu caranya adalah melalui kegiatan pengembangan penanaman. Penanaman pohon penghasil gaharu dari jenis Gyrinops versteegii yang dilaku- kan di lahan kosong atau tempat terbuka di daerah semi arid dewasa ini tingkat keberhasilan tumbuhnya dinilai masih rendah (kurang dari 30 %). Hal ini disebabkan teknik penanam- an yang tidak sesuai dengan tuntutan teknik budidaya. Jenis pohon gaharu di lapangan memerlukan pohon penaung. Pertumbuhan tanaman inang gaharu akan lebih baik bila ditanam di ba- wah naungan pohon. Penaung samping dari hutan alam dengan intensitas penyinaran 50 % dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman gaharu. Penaung sangat diperlukan untuk meningkatkan kelembaban udara dan me- nurunkan suhu udara di sekitar tanaman sehingga tanaman gaharu dapat tumbuh dengan baik. Oleh karena itu pada daerah yang kering terutama lahan kosong atau tempat terbuka yang mempunyai kelem- baban kurang dan belum ada pohon pe- naungnya diperlukan penanaman pohon penaung. Salah satu cara yang dapat dila- kukan adalah penanaman gaharu dengan sistem tumpangsari dengan tanaman pa- ngan atau perkebunan.

 

b.        Pohon Karet

Karet merupakan tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomisyang tinggi dan salah satu penghasil devisa negara. Produsen karet terbesar berada di Indonesia terdiri dari pulau Sumatera dan Kalimantan dan Indonesia merupakan salah satu produsen karet terbesar setelah Thailand dengan jumlah penduduk yang terlibat pada usahatani karet mencapai 2,2 juta kepala keluarga (KK). Sehingga dengan adanya penurunan harga karet pada tahun 2013 – 2018 sangat berdampak terhadap penurunan pendapatan petani karet. Oleh karena itu diperlukan strategi untuk meningkatkan pendapatan petani karet agar pendapatan petani dapat stabil atau bahkan dapat meningkat.

Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, hal tersebut dapat dilihat dari manfaatnya bagi petani sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja, sedangkan bagi negara merupakan sebagai penyumbang devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi rakyat. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas. Rendahnya produktivitas karet di perkebunan umumnya disebabkan belum optimalnya penerapan manajemen penggunaanklon anjuran dengan baik. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan produktivitas tanaman karet dapat ditempuhdengan cara pemilihan klon berproduksi tinggi.

c.         Pohon Jati

Jati (Tectona grandis Linn F.) sampai sekarang masih menjadi komoditas mewah  yang banyak diminati masyarakat walaupun harga jualnya mahal. Kebutuhan kayu jati olahan untuk Indonesia, baik skala domestik maupun ekspor pada tahun 1999 sebesar 2,5 juta m3/tahun dan baru terpenuhi sebesar 0,8 juta m3/tahun (Leksono, 2001). Dengan demikian terdapat kekurangan pasokan kayu jatisebesar 1,7 juta m3/tahun. Kekurangan pasokan kayu jati yang demikian besar tentunya memberikan peluang, sehingga budidaya jati akaan cukup cerah di masa sekarang dan masa yang akan datang. Secara umum, pengembangan jati sampai dekade tahun 70-an masih bersifat konvensional. Pengembangan budidaya jati masih mengandalkan teknik perbanyakan secara generatif, yaitu perbanyakan tanaman berasal dari biji atau benih pohon induk yang terpilih. Pengembangan tanaman jati secara konvensional (generatif) memiliki kendala, yaitu tanaman baru dapat berproduksi sekitar 40-60 tahun.

Untuk mengatasi kendala budidaya jati, para ahli telah melakukan pendekatan-pendekatan yang tujuannya adalah untuk mendapatkan tanaman jati unggul dan dapat dipanen dengan umur yang relatif lebih pendek. Sejak dekade tahun 90-an telah mulai dipelajari pola pengembangan tanaman secara vegetatif melalui teknik kultur jaringan dan kultur tunas. Pohon jati yang dihasilkan diharapkan memiliki keunggulan komparatif dan berdaur pendek (kurang lebih 15 tahun). Walaupun secara kualitas kayu jati yang dihasilkan belum tentu lebih baik dibandingkan kayu jati hasil budidaya secara konvensional, namun usaha budidaya jati yang berdaur pendek perlu dikaji lagi sehingga  dapat mendorong masyarakat untuk membudidayakannya.

Untuk lebih mengoptimalkan penggunaan lahan, para pengembang bukan hanya mencoba membudidayakan jati berdaur pendek, tetapi juga membudidayakan tanaman  jati dengan pola tumpangsari dengan tanaman sawit, coklat, dan kopi. Produksi kayu jati yang dihasilkan dari tanaman yang berdaur pendek sampai saat sekarang belum dapat disajikan, karena pengembangannya baru dilakukan 5-6 tahun terakhir. Sejalan dengan peningkatan akan kebutuhan kayu jati, diharapkan juga diikuti dengan pengembangan budidaya jati dan pembangunan hutan tanaman jati. Untuk itu diperlukan bibit jati yang berkualitas dan berkarekter unggul, serta mempunyai daur panen yang lebih pendek. Pola penanaman jati juga mulai dikembangkan, terutama dalam efektifitas penggunaan lahan dan pola penanaman monokultur maupun tumpangsari dengan kombinasi tanaman perkebunan yang bernilai ekonomis. Budidaya jati dengan pola agroforestry juga dikembangkan.

d.        Pohon Eboni

Eboni (Diospyros celebica Bakh.) adalah salah satu jenis diospyros yang paling sempit penyebarannya, hanya terdapat di Sulawesi. D. celebica. Termasuk ke dalam 7 jenis pohon eboni yang tumbuh di Indonesia. Jenis ini yang paling digemari pedagang dan pertama dikenal di pasar dunia dengan nama eboni makassar, eboni bergaris atau Coromandel. Semakin tingginya permintaan akan kayu eboni yang tidak diimbangi dengan keberhasilan budidaya menyebabkan populasi jenis ini semakin mengalami tekanan, baik dalam segi jumlah maupun habitatnya. Potensi kayu eboni di habitat alaminya pada hutan primer pada tahun 1985 dengan rata-rata produksi 5,85 m3 per-ha mengalami penurunan menjadi 2,56 m3 per-ha pada tahun 2003. Waktu pemanfaatan dalam jangka lama, pola sebaran yangterbatas dan daur yang panjang menyebabkan populasi kayu eboni sangat rentan terhadap eksploitasi yang berlebihan dan populasi yang menurun dalam waktu relatif singkat.

Akibatnya terjadi kelangkaan populasi jenis ini di hutan alam dan statusnya dikategorikan sebagai tumbuhan yang mulai langkah dan menimbulkan kekhawatiran akan kepunahannya. Tingginya nilai ekonomi kayu eboni yang memiliki karakteristik yang cocok untuk mebel mewah, patung, ukiran, alat upacara sakral dan lain-lain sesungguhnya mengandung kekuatan yang dapat menempatkan produsen pada posisi tawar yang lebih tinggi dan unggul di hadapan pembeli. Tingginya tingkat kerusakan tegakan eboni akibat eksploitasi lebih diperburuk lagi dengan belum memadainya kegiatan penanaman kembali. Seandainya masyarakat maupun pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) telah melakukan upaya penanaman kembali, namun keberhasilannya masih sangat rendah dan belum sepadan dengan luas areal tebangan. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa sampai kini belum tersedia data yang pasti tentang realisasi penanaman kembali jenis eboni.

Berdasarkan pada persoalan-persoalan yang mengancam
keberadaan populasi eboni maka diperlukan suatu strategi untuk
penyelamatan eboni dari ancaman kepunahan.
penyebab eboni terancam punah yaitu Penebangan eboni dilakukan tidak sesuai dengan aturan tanpa
pertimbangan ekologis apakah tanaman sudah siap panen apa belum.
Sehingga tanaman yang belum siap panen juga di eksploitasi.
Kegiatan eksploitasi tersebut tentu akan berdampak sangat
merugiakan terhadap kesinambungan terhadap produksi. Akibatnya dari itu, terjandinya intensitas
pada penebangan semakin tinggi untuk memenuhi permintaan,
menyebabkan eboni yang belum cukup umurpun ikut ditebang. Semakin tinggi intensitas penebangan persatuan luasan suatu areal,kerusakan tegakan tinggal akan semakin besar.

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

1.      Pohon adalah tumbuhan yang batangnya berkayu dan dapat mencapai ukuran diameter 10 (sepuluh) sentimeter atau lebih yang diukur pada ketinggian 1,50 (satu koma lima puluh) meter di atas permukaan tanah.

2.      Kegiatan penanaman merupakan kegiatan inti dari budidaya hutan. Hutan yang mencakup areal yang luas, memerlukan biaya yang besar sehingga diperlukan ketrampilan yang cukup.

3.      Teknik penanaman pohon terdiri dari perencanaan, pembersihan lahan, pengolahan tanah, pengangkutan bibit dan penananam tahapan.

4.      Beberapa pohon yang bernilai ekonomis tinggi adalah Pohon Gaharu (Aquilaria spp.), pohon karet, Jati (Tectona grandis Linn F.) dan Eboni (Diospyros celebica Bakh.)

5.      Pohon-pohon dapat bernilai ekonomis yang tinggi karena memiliki manfaat dan fungsi yang sangat dibutuhkan serta kualitas poho tersebut sangat bagus.

3.2 Saran

            Sebaiknya praktikan mengikuti praktikum dari awal dan akhir dengan fokus agar dapat mmahami materi dan dapat melakukan praktek langsung dan tidak akan melakukn kesalahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Dwi H, Susi A, Ragil B. 2012. Kajian Sengon Sebagai Pohon Bernilai Ekonomi dan Lingkungan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 6(3):201-208.

 

Hardiatmi S. 2011. Investasi Tanaman Kayu Dalam Wanatani Cukup Menjanjikan. Jurnal Inovasi Pertanian, 9(2):17:21.

 

Kinho J. 2014. Status Dan Strategi Konservasi Eboni (Diospyros rumphii Bakh.)Di Sulawesi Utara. Seminar Nasional Biodiversitas, 130-137.

 

Kurniawan E. 2013. Strategi Penyelamatan Eboni(Diospyros celebica Bakh.) Dari Ancaman Kepunahan. Info Teknis EBONI, 10(2): 99-106.

 

Nugraha IS, Sahuri. 2019. Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Karet Dalam Merespon Harga Karet Rendah. Perspektif, 18(2): 79-86.

 

Sadono. 2018. BudidayaTanamanGaharu (Aquilaria sp.) Di Lahan Kebun Kelapa Sawit dengan Aplikasi Teknik Silvikultur. Jurnal Info Teknis Eboni, 10(1):37-47.

 

Siregar EBM. 2011. Potensi Budidaya Jati, 1-8.

 

Surata IK, Soenarno. 2011. Penanaman Gaharu (Gyrinops versteegii (Gilg.) Domke ) Dengan Sistem Tumpangsari Di Rarung, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal Pendidikan dan Konservasi Alam, . 8(4): 349-361.

 

Wahyudi. 2015. BudidayaGaharu, Sari Agribisnis. Jakarta: PenebarSwadaya

 

Wahyudi, Anwar. 2013. Tekhnologi Pembudidayaan Tanaman Gaharu. ProsidingLokakarya Pengembangan Tanaman Gaharu. RLPS Dephut. Jakarta

 

WiriadinataH, Semiadi G, Darnaedi D , Waluyo EB. 2012.  Konsep Budidaya Gaharu (Aquilaria spp.) Di Provinsi Bengkulu. Jurnal Pendidikan dan Konservasi Alam, 7(4) : 371-380.

 

Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan

Paper Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan                                         Medan,       Juni 2021 VALUASI NILAI EKONOMI KARBON MA...